Al Baqarah 269
Alloh memberikan Hikmat kebijaksanaan (ilmu yang berguna) kepada siapa yang dikehendakiNya dan siapa yang diberikan hikmat itu maka sesungguhnya dia telah diberikan kebaikan yang banyak. Dan tiadalah yang dapat mengambil pengajaran (dan peringatan) melainkan orang-orang yang menggunakan akal fikirannya.

Hadist Nabi :

Pergunakanlah kesempatan lima (perkara) sebelum (datangnya) lima (perkara):

1. Waktu hidupmu sebelum matimu,

2. Waktu sehatmu sebelum sakitmu,

3. Waktu luangmu sebelum sibukmu,

4. Waktu mudamu sebelum tuamu dan

5. Waktu kayamu sebelum kefakiranmu.


Sabtu, Desember 04, 2010

Jasa Manajemen Konstruksi

KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN JASA MANAJEMEN KONSTRUKSI 


A. Koordinasi
Koordinasi antara paket pekerjaan dapat dicapai secara optimal, karena MK dalam tugasnya harus menggunakan tenaga ahli yang berpengalaman sebagai back upKoordinasi yang baik akan menjamin pelaksanaan yang ter-integrasi, berkurangnya interupsi dan menghindarkan terjadinya  bongkar pasang.

B. Kontrol Kualitas
Kontrol kualitas pada masa perencanaan berupa penentuan bahan dan peralatan dengan mengkaji   berbagai aspek seperti waktu pengadaan, tersedianya dipasaran, life time, suku cadang, purna jual dan sebagainya.

C. 
Penghematan Waktu
Dengan adanya pembagian paket pekerjaan yang disesuaikan dengan urutan kerja, maka awal proyek dapat dilaksanakan sedini mungkin, sehingga total waktu proyek menjadi lebih singkat. Pada saat perencanaan masih berjalan, pelaksanaan paket pertama dapat dimulai (misalnya Fondasi dapat dimulai dilaksanakan).

D. Penghematan Biaya
Pada proyek tanpa MK, akan timbul keuntungan dan pajak berulang dari pihak Sub Kontraktor dan Main Kotraktor. Pada proyek dengan adanya MK, keuntungan tersebut tidak ada sehingga dapat menghemat biaya minimal 15 % biaya konstruksi fisik dari para Kontraktor.

  
LINGKUP TUGAS MANAJEMEN KONSTRUKSI


A. Lingkup Tugas Manajemen Konstruksi pada Masa Persiapan Proyek
  • Bersama Pemberi Tugas menentukan sasaran proyek yang mencakup besaran proyek, biaya dan waktu penggunaan bangunan.
  • Membuat Kerangka Acuan Tugas (TOR) untuk pekerjaan perencanaan, baik Arsitektur, Struktur maupun Elektrikal dan Mekanikal.
  • Membantu Pemberi Tugas dalam menyeleksi Konsultan Perencana.
  • Membantu Pemberi Tugas dalam memutuskan berbagai permasalahan teknis pada tahap persiapan proyek dengan cara memberikan pertimbangan/advice dari segi teknis dan konstruksi tahap selanjutnya.
  • Membantu Pemberi Tugas dalam masalah prosedur dan perizinan dengan pihak/instansi yang berwenang.
B. Lingkup Tugas Manajemen Konstruksi pada Tahap Perencanaan
          
1. Menentukan Paket Pekerjaan :
  • Spesialisasi dan jenis pekerjaan
  • Nilai/biaya
  • Koordinasi kerja
  • Urutan kerja
2. Membuat jadwal induk untuk memonitor seluruh pekerjaan dari mulai tahap perencanaan, pelelangan sampai pelaksanaan dari setiap paket pekerjaan dengan memasukan faktor waktu untuk proses perizinan.

3. Tindakan Koordinasi :
Memantau kegiatan perencanaan sesuai dengan paket pekerjaan yang telah ditentukan sebelumnya.
Mengatur jadwal rapat koordinasi, memberikan saran dan masukan lain untuk dikembangkan lebih lanjut oleh pihak Perencana.
Memeriksa seluruh RAB dan Gambar Rencana dari keterkaitan salah satu paket dengan paket yang lainnya.
4. Pelelangan Pekerjaan :
  • Melakukan seleksi calon Kontraktor
  • Membuat jadwal rinci pelelangan
  • Mempersiapkan dokumen pelelangan sesuai dengan kebutuhan
  • Memberikan penjelasan umum
  • Memberikan penjelasan teknis bersama pihak Perencana
  • Melaksanakan pelelangan, mengevaluasi dan memberikan rekomendasi calon pemenang kepada Pemberi Tugas.
C. Lingkup Tugas Manajemen Konstruksi pada Tahap Pelaksanaan
Tugas Manajemen Konstruksi pada tahap pelaksanaan secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut :
                      1.Pengendalian Proyek :
  • Mengkoordinasikan kegiatan antara Kontraktor, Perencana serta kegiatan yang menjadi tanggung jawab Pemberi Tugas, dalam rangka pengendalian waktu, biaya dan kualitas pekerjaan.
  • Mengendalikan tenaga-tenaga yang mampu di lapangan untuk pengendalian proyek.
  • Membuat jadwal dan pelaksanaan pertemuan antara Pemberi Tugas dan Team Manajemen Konstruksi untuk membahas masalah-masalah sebelum mulai pelaksanaan (Pra Konstruksi) serta progres pekerjaan selanjutnya, penjadwalan, prosedur, permasalahan lapangan dan sebagainya.
  • Mengadakan rapat berkala sedikitnya 1 (satu) kali dalam seminggu dengan Pemberi Tugas, Konsultan Perencana dan Kontraktor untuk membahas masalah dan persoalan yang timbul dalam pelaksanaan, kemudian membuat risalah rapat dan mengirimkan kepada pihak yang bersangkutan.
  • Mengendalikan jadwal keseluruhan proyek, target dan progres seluruh kegiatan kontraktor termasuk proses pengadaan bahan yang memerlukan waktu lama, termasuk pula jadwal pemanfaatan bangunan oleh Pemberi Tugas.
  • Memonitor jadwal pelaksanaan, me-review jadwal kegiatan yang belum mulai atau belum selesai, menyelaraskan terhadap total waktu penyelesaian.
  • Membuat laporan ringkas dari hasil monitoring dan mendokumentasikan semua perubahan-perubahan jadwal.
  • Memberikan rekomendasi kepada Pemberi Tugas bila ketentuan-ketentuan kontrak tidak terpenuhi.
                       2. Pengendalian Biaya :
  • Me-revisi estimasi biaya, disesuaikan terhadap biaya-biaya konstruksi yang telah disetujui/diadakan kontrak.
  • Melaksanakan pengawasan regular terhadap biaya pelaksanaan (konstruksi) yang telah disetujui dan mengestimasi biaya-biaya untuk kegiatan yang belum dilaksanakan.
  • Menghitung dan mencatat bobot prestasi.
  • Mengembangkan dan melaksanakan prosedur perubahan kerja untuk Kontraktor.
  • Merekomendasikan perubahan-perubahan kerja yang diperlukan kepada Pemberi Tugas dan Perencana, me-review kesepakatan perubahan dan mendampingi Pemberi Tugas dalam negosiasi kembali dengan Kontraktor.
  • Prosedur review untuk progres pekerjaan sehubungan dengan proses pembayaran setelah adanya perubahan kerja (tambah/kurang). 
                        3. Perizinan dan biaya-biaya :
  • Membantu proses izin bangunan dan izin-izin khusus yang lainnya.
  • Memeriksa bahwa biaya-biaya perizinan sudah dipenuhi Pemberi Tugas.
  • Membantu proses persetujuan dari instansi yang berwenang. 
                       4. Penasehat Khusus Pemberi Tugas :

        • Bila diperlukan membantu Pemberi Tugas dalam memilih dan menggunakan jasa profesional dari Konsultan Khusus dan Laboratorium untuk testing serta mengkoordinasikan pelayanan jasa tersebut.
                       5. Pengawas Teknis (Supervision) :
  • Mengawasi kerja Kontraktor supaya sesuai dengan Dokumen Tender.
  • Melindungi Pemberi Tugas terhadap kerusakan-kerusakan dan kerugian-kerugian lain akibat pelaksanaan.
  • Memerintahkan Kontraktor untuk menghentikan pekerjaan, melakukan inspeksi khusus, menguji pekerjaan apabila menyimpang dari Dokumen Tender. 
                       6. Performance Kontrak/Interpretasi Dokumen :

        • Berkonsultasi dengan Pemberi Tugas dan Perencana bila timbul masalah-masalah yang berhubungan dengan interpretasi kontrak terhadap Dokumen Tender dan membantu   pemecahan masalah tersebut.

                      7. Gambar Kerja (Shop drawing) dan Contoh Bahan (Sample Material):

        • Mengembangkan dan melaksanakan prosedur koordinasi terhadap persetujuan Gambar-gambar Kerja (Shop drawing) dan Contoh Bahan (Sample Material) bersama Perencana.
                      8. Laporan, Pencatatan dan Penyelesaian Administrasi :
  • Mencatat dan membuat Laporan Prestasi Mingguan dan Bulanan serta menyusun Berita Acara Tambah Kurang Pekerjaan, Berita Acara Penyerahan I kepada Pemberi Tugas.
  • Memeriksa dan menyetujui Laporan Harian yang dibuat oleh Kontraktor.
  • Menyimpan catatan-catatan harian mengenai masalah-masalah yang diperlukan Pemberi Tugas dan Perencana.
  • Dokumentasi dari seluruh proses pelaksanaan:
    • Gambar-gambar kerja yang sebagaimana sudah dilaksanakan.
    • Contoh Bahan.
    • Proses Pembelian.
    • Peralatan.
    • Manual operasi dan pemeliharaan sistim Elektrikal/Mekanikal.
    • Spesifikasi Teknis.
    • Manual pengawasan.
    • Revisi yang timbul.
    • Dokumen-dokumen lain yang diperlukan. 
                       9. Kegiatan Pembelian oleh Pemberi Tugas :

        • Menerima pengiriman, mengatur penyampaian, proteksi dan lain-lain, keamanan material, sistem, peralatan milik Pemberi Tugas sampai proses tersebut diambil alih/diserahkan kepada Kontraktor.
                     10. Penyelesaian Substantial/Bagian-bagian Pekerjaan :

        • Menyiapkan untuk Pemberi Tugas, hal-hal yang belum dipenuhi oleh Kontraktor dari Dokumen Tender, membuat jadwal perbaikannya dan mengawasi lebih lanjut pekerjaan perbaikan.
                     11. Start Up dan Testing :

        • Bersama personal yang bertugas dalam pemeliharaan ( pihak Pemberi Tugas) mengawasi  pelaksanaan start up dan testing.

                     12. Pengendalian Kualitas ( Quality Control ) :
  • Pengendalian kualitas dilakukan sejak awal proses yaitu sejak tahap persiapan pelaksanaan dengan cara memberikan masukan-masukan kepada unsur perencana yang terlibat, mengenai pertimbangan-pertimbangan pemilihan material, standar-standar yang dipergunakan, metode pelaksanaan termasuk masalah-masalah toleransi dalam pelaksanaan dan lain-lain.
  • Pada tahap pelaksanaan, pengendalian kualitas dapat dilakukan dengan melaksanakan program kontrol inspeksi dan supervisi. Program-program ini dapat disusun dalam suatu prosedur tata laksana yang menjadi pedoman bagi semua unsur yang terlibat dalam proyek.
  • Di dalam pelaksanaannya, prosedur tata laksana dalam pengendalian kualitas dapat diuraikan dalam aktifitas-aktifitas antara lain sebagai berikut : 
          • Penyusunan Laporan Mingguan,Bulanan.
          • Penggunaan check list, baik untuk penggunaan material maupun tahap memulai suatu pekerjaan.
          • Pengujian dan inspeksi secara acak (random) terhadap material ataupun hasil suatu bagian pekerjaan.
                       13. Pengendalian Waktu (Time Control) :

        • Dalam rangka menjalankan fungsi pengendalian waktu, Manajemen Konstruksi dapat mempergunakan Critical Path Method (CPM) dalam suatu analisis Network Planning, Bar Chart dan S-Curve yang didahului dengan penyusunan suatu Master Schedule sebagai patokan dasar skedul seluruh proyek.
        • Dalam Master Schedule dicantumkan aktifitas-aktifitas utama yang akan berada pada l  lintasan kritis, dalam suatu kerangka target waktu yang biasanya telah ditentukan terlebih   dahulu dalam fase planning suatu proyek.

                       14. Keselamatan dan Keamanan Pekerjaan dan Bangunan :

        • Untuk pengendalian terhadap keselamatan dan keamanan diperlukan perangkat-perangkat sebagai berikut :
  • Sistim atau prosedur-prosedur pada umumnya yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan pekerja dan bangunan (termasuk semua bahan dan peralatan di dalam site proyek) yang antara lain mencakup:
    • Keluaran/Masuk barang.
    • Prosedur pengaturan penyimpanan barang.
    • Prosedur keluar/masuk orang.
    • Prosedur pencegahan kebakaran.
    • Pengawasan terhadap pemakaian peralatan-peralatan (terutama alat-alat berat).
    • Sistem penjagaan keamanan (security).
    • Pengawasan terhadap pelaksanaan standard keselamatan kerja.
  • Sistim penggunaan jasa asuransi, pada dasarnya adalah menggunakan jasa pihak ketiga untuk menanggung resiko. Asuransi dapat dilaksanakan dalam semua kegiatan dan tahapan, yaitu:
    • Asuransi terhadap seluruh kegiatan Kontruksi (Contraction All Risk/CAR ).
    • Asuransi terhadap seluruh personal yang terlibat dalam proyek. 
D. Lingkup Tugas Manajemen Konstruksi Pada Tahap Pemeliharaan
Tugas Manajemen Konstruksi pada tahap pemeliharaan pekerjaan yang biasanya diterapkan selama 90 (sembilan puluh) hari, secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut:
         1. Pengawasan Berkala :
  • Mengawasi pekerjaan Kontraktor dalam menyelesaikan perbaikan-perbaikan yang tercatat pada waktu serah terima I (Pertama).
  • Memeriksa kemungkinan terjadinya kerusakan/cacat pada pekerjaan perbaikan yang tercatat pada pekerjaan yang telah selesai. 
         2. Uji coba pemakaian peralatan :
  • Pada masa pemeliharaan perlu dilakukan uji coba peralatan semua sistim Elektrikal/Mekanikal secara full running dan dilakukan pemeriksanaan terperinci mengenai sistim dan peralatan tersebut.
  • Kalau diperoleh hal-hal yang janggal atau tidak sesuai dengan perencanaan dan peraturan yang berlaku, maka sistim terpasang tersebut harus dievaluasi kembali dengan persetujuan Pemberi Tugas. 
        3. Kegiatan Administrasi :
  • Membuat Laporan Mingguan dan Bulanan yang berisi kegiatan pekerjaan pemeliharaan dan uji coba peralatan.
  • Membuat Berita Acara Serah Terima II ( Kedua). 
        4. Lain-lain :
  • Turut serta membimbing calon operator dari Pemilik Proyek untuk mengoperasikan Sistim Elektrikal/Mekanikal.
  • Membantu Pemberi Tugas dalam menangani setiap masalah yang timbul pada masa pemeliharaan.

Senin, November 08, 2010

TETRA IN INDONESIA

image0021
TETRA moving forward in Indonesia, Jakarta
8th November 2010 in Intercontinental Jakarta Mid Plaza, Indonesia
Agenda Seminar dan Kongres yang dilakukan pada hari Senin, tgl 8 November 2010 sebagai berikut :
1.    Pembukaan
Yang dilakukan oleh CEO, The TETRA Asoociation, Mr. Phil Kidner admin@tetra-association.com
  • "TETRA News is designed to give you a brief update of what is currently happening in the TETRA world", TETRA is now deployed in over 114 countries so we cannot include everything. You can always find out further information by visiting our website at http://www.tetra-association.com/.
2.Seminar kesatu :
 A TETRA update, yang disampaikan oleh Mr. Roger Dowling;
3.  Seminar kedua :
The architecture of a true IP mission critical TETRA system, yang disampaikan oleh Mr. Oliver Werning;
4.  Seminar ketiga :
Ensuring a safe and effective Metro Rail Operation : How TETRA can help?, yang disampaikan oleh Mr.    Oka   Putra.
5. Seminar keempat :
Advantage of a Distributed Soft Switch TETRA network architecture, yang disampaikan oleh Mr. Animesh Basu;
6. Seminar kelima :
Optimising TETRA for SCADA and Telemetry, yang disampaikan oleh Mr. Michael Piciorgros;
7. Seminar keenam :
TETRA data applications, yang disampaikan oleh Mr. Tuomas Korpilahti;
8. Seminar ketujuh :
Integration of TETRA with complementary technologies, yang disampaikan oleh Mr. Peter Clemons;
9. Seminar kedelapan :
Broadband features on a TETRA PMR network, yang disampaikan oleh Mr. Sebastian Sabatier;
10. Penutupan dan Exhibition, tentang TETRA in Indonesia.

Kamis, November 04, 2010

MODA TRANSPORTASI

Kalau kita bicara tentang kemacetan, dapat dipastikan akan berhubungan  dengan yang namanya MODA TRANSPORTASI. Ada beberapa moda transportasi yang kita ketahui yaitu :
  1. Angkutan jaman dulu seperti Delman;
  2. Sepeda;
  3. Motor;
  4. Mobil;
  5. Busway;
  6. Kereta Api.
Pengalaman penulis yang berkantor di daerah Kuningan Jakarta, dan bertempat tinggal diwilayah Depok. Beberapa gambar dan foto yang penulis sajikan diambil dari Internet, untuk itu penulis mohon maaf terlebih dahulu dari yang melakukan Up-load.  Kalau dilihat dari foto dibawah ini, kemacetan di Jakarta cukup parah, apalagi kalau cuaca hujan besar yang mengakibatkan banjir. Pemprov DKI telah melakukan beberapa KEBIJAKAN di SEKTOR TRANSPORTASI, akan tetapi dengan meningkatnya jumlah kendaraan yang tidak diikuti dengan peningkatan jalan, pada akhirnya kemacetan tidak bisa dihindari. Satu lagi kebijakan yang dilakukan dengan Jalur 3-1( Baca Three in One), yang tidak diikuti dengan disiplin pengguna kendaraan roda empat atau lebih, dengan menyewa JOKI-JOKI atau mencoba mengelabui petugas dengan Boneka, pada akhirnya kebijakan ini kurang efektif untuk mengurangi kemacetan.
macet
  • SEPEDA
sepeda
Sebenarnya, angkutan sepeda layak digunakan, akan tetapi sampai saat ini jalur khusus untuk sepeda belum disediakan, pada akhirnya Penulis tidak menggunakan moda transportasi jenis ini. Hobby menggunakan sepeda tetap dilakukan di hari Libur atau yang namanya CAR FREEDAY.  Kesahatan jasmani tetap dijaga, karena kesibukan kerja di hari2 lain kadangkala lupa dengan OLAHRAGA.
  • MOTOR;
sepeda-motor
Moda transportasi jenis ini, telah penulis gunakan dengan beberapa pertimbangan. Motor YAMAHA, tahun pembuatan 2006, menjadi andalan angkutan untuk berangkat dan kembali kerumah dari Kantor. Waktu tempuh kurang lebih 1.5 Jam sekali jalan dari depok ke Kuningan Jakarta. Ongkos yang dikeluarkan dalam satu bulan untuk bahan bakar jenis PREMIUM sekitar 20 Liter selama sebulan diluar waktu libur di sabtu dan minggu, atau sekitar 20 x Rp. 5500/liter = Rp. 110.000,- .  Kalau ditambah dengan biaya servis dan cuci motor, biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp. 150.000/bulan. Resiko Hujan dan Celaka menjadi pertimbangan penulis, karena kadang kala cuaca tidak menentu dan disiplin di jalan kurang. Rute yang dilalui Jl. Juanda Depok-Jl.Margonda Raya-Jl.Lenteng Agung-Jl. Pasar Minggu-Jl. Saharjo-Jl.Rasuna Said.
  • MOBIL;
capv
Moda transportasi jenis ini, telah penulis gunakan dengan rute Jl.  Juanda-Jl.Margonda-Jl.Lenteng Agung-Jl.Mampang Prapatan-Jl.Rasuna Said. Waktu tempuh sekitar 2.5 jam. Macet yang sering ditemukan didaerah Jl.Lenteng agung dan Jl. Mampang Prapatan. Sebenarnya kemacetan di Jalan Lenteng Agung itu karena orang menyeberang jalan dari/menuju stasiun lenteng agung, akan tetapi imbasnya cukup membuat kemacetan sampai dengan perlintasan Universitas Pancasila. Kemacetan di wilayah tersebut memakan waktu sekitar 30 menit. Dan kemacetan berikutnya di Wilayah Mampang Prapatan, dimulai dari perempatan Pejaten sampai dengan Flyover mampang, dengan memakan waktu sekitar 1.5 jam. Kalau dihitung biaya kurang lebih dalam satu bulan mencapai Rp. 650.000,- (termasuk servis ringan dan Cuci).
  • BUSWAY,
busway-21
Moda transportasi jenis ini, kadang kala menjadi pilihan untuk transportasi ke Kantor dan Kembali ke rumah.  Rute yang dilalui adalah dari depok menggunakan angkutan perkotaan (angkot) dengan biaya Rp. 2500 ( Keterminal) dan Rp. 5000 (Terminal-Tj Barat) dan trus naik Ojek (Tj Barat-Halte Busway Pertanian) Rp. 7000,- . Dari Halte busway Pertanian, beli tiket Ro. 3500 untuk perjalanan menuju ke Kuningan.  Total biaya sekali perjalanan sekitar Rp. 2500 + Rp. 5000 + Rp. 7000 + Rp. 3500 = Rp. 18.000,- dan kalau dihitung pulang pergi 2 x Rp. 18.000 = Rp. 36.000,- dan kalau dihitung selama 25 hari kerja sebulan, biaya yang dikeluarkan sekitar Rp. 25 x Rp. 36.000,- = Rp. 900.000,-. Seandainya Koridor Busway sudah lengkap, mungkin biaya tersebut bisa dipangkas, akan tetapi sampai saat ini Pemprov belum melanjutkannya karena masalah Ketersediaan BUS dan DANA.  Waktu tempuh mulai dari depok sampai dengan Halte Busway Pertanian sekitar 45 Menit dan Menggunakan Busway dari Halte Pertanian ke Kuningan yang sebelum dilakukan sterilisasi memakan waktu 1 Jam, sekarang dipangkas menjadi 35 menit. Waktu 35 menit itu bisa lebih cepat lagi seandainya tidak terjadi Antrian Penumpang di tiap2 halte. Mudah2an angkutan BUS bisa lebih ditambah sehingga HEADWAY bisa diperkecil.
halte-busway1

  • KERETA API  ( KRL=Kereta Rel Listrik)
krl-2
Moda transportasi jenis ini telah lama keberadaannya di wilayah JABODETABEK, akan tetapi sampai saat ini pembenahan kurang berjalan maksimal karena Payung Hukum yang ada belum bisa di Implementasikan. Dengan UU 23/2007 dan PP 56/2009 serta PP 72/2009,  sudah dipertegas Tugas dan Tanggung Jawab, serta pemisahan antara REGULATOR dan OPERATOR.  Jalur-jalur KRL yang ada Mulai dari BOGOR LINE, BEKASI LINE, SERPONG LINE, TANGGERANG LINE, dan LOOP LINE  serta CENTRAL LINE.  Rute yang dilalui adalah dengan menggunakan Motor dari rumah ke Stasiun Terdekat di Stasiun Pancasila dengan menitipkan motor dengan biaya Rp. 2000,- setelah itu bisa memilih Jenis KRL untuk tujuan Tanah Abang, mulai dari yang Ekonomi dengan Tarif Rp. 2500, - ,  KRL AC Ekonomi Rp. 5500,- dan KRL AC Express Rp. 9000,-. Turun di Stasiun Dukuh Atas (SUDIRMAN), dan melanjutkan naik Ojek Rp. 7000,- . Jadi kalau dihitung biaya yang dikeluarkan sbb :
KRL Ekonomi : Rp. 2500,- +  Rp. 7000,- = Rp. 11500,- /sekali jalan. Kalau pp menjadi 2 x Rp. 9.500 = Rp. 19.000,- + Rp. 2000,- (Sewa Penitipan Motor) = Rp. 21.000,- dan dalam waktu 25 hari kerja sekitar  Rp. 525.000,- dengan Waktu tempuh 1.5 Jam. Tapi masalahnya untuk ekonomi  penumpang penuh sesak dan kadangkala sampai dengan dua lantai ( alias diatas).
krl
KRL AC Ekonomi : Rp. 5500,-+ Rp. 7000,- = Rp. 12.500,-/sekali jalan. Kalau PulangPergi (pp) menjadi 2 x Rp. 12.500,- + Rp. 2000,- (Sewa Penitipan Motor)= Rp. 27.000,- dan dalam waktu 25 hari kerja sekitar Rp. 675.000,- dengan Waktu tempuh 1 Jam.
KRL AC Express :  Rp. 9000,- + Rp. 7000,- = Rp. 16.000/sekali jalan. Kalau pp menjadi 2 x Rp. 16.000,- + Rp. 2000,- (sewa penitipan motor) = Rp. 34.000,- dan dalam waktu 25 hari kerja sekitar Rp. 850.000,- dengan Waktu tempuh 40 menit.
Masalah utama Moda Transportasi jenis ini adalah KETEPATAN WAKTU dan KENYAMANAN, kadang kala tepat waktu dan lebih sering TIDAK TEPAT WAKTU. Di AC Ekonomi dengan jumlah penumpang yang cukup padat, AC yang berfungsi kurang maksimal, apalagi kalau ada gangguan AC, wah udara didalam dengan pintu dan jendela ditutup, tidak nyaman untuk bernapas. Begitu juga dengan AC Express, bedanya waktu tempuh lebih cepat jadi tidak terlalu masalah sekali. Nah yang menjadi titik kemacetan di semua lintas adalah Stasiun Manggarai, karena stasiun ini menjadi pertemuan antara KA Komuter dan KA Jarak Jauh. Seandainya bisa dipisahkan, bisa lebih cepat lagi waktu tempuh. Headway saat ini sekitar 7-10 Menit. Mudah2an dimasa mendatang dengan masuknya Operator Baru, akan ada Persaingan dalam Pelayanan dan Keselamatan, seperti halnya dengan Pesawat Udara. Ada maskapai Garuda, Lion, dll.

Untuk kesimpulan : SILAHKAN MENYIMPULKAN

Kamis, Oktober 21, 2010

PROGRESS JALUR GANDA


PROGRESS JALUR GANDA KERETA API DI PULAU JAWA

Salah satu moda transportasi yang ada saat ini di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa adalah Kereta Api.
Mulai jaman Penjajahan sampai saat ini, transportasi kereta api sangat di butuhkan sebagai sarana transportasi jarak jauh maupun jarak pendek atau kita sebut Long distance ( antar kota ) dan Commutter ( Perkotaan ).



Dengan dibentuknya Direktorat tersendiri di Departemen Perhubungan, diharapkan infrastruktur sebagai penunjang Prasarana dan Sarana kereta api, dapat ditingkatkan dan menunjukkan perkembangan yang berarti sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Progress kemajuan mulai terlihat dengan disahkannya UU 23/2007 sebagai payung hukum untuk mewujudkan Sarana Kereta Api bisa lebih maju dan tetap mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Dengan adanya undang undang tersebut diharapkan dengan terbentuknya  KM (Keputusan Menteri) dan PP (Peraturan Pemerintah) dalam tahun 2009/2010, roda perekonomian sebagai sektor riil dapat berkembang pesat di perkotaan maupun didaerah-daerah.

PT. KAI ( Kereta Api Indonesia ) yang selama ini berjuang dengan susah payah sebagai Operator dan Penanggung Jawab perawatan Prasarana dan Sarana untuk berlangsungnya operasi KA mulai dibenahi dengan profesionalisme yang tinggi dikalangan pegawai dan staffnya. Sosialisasi pemisahan antara Regulator dan Operator telah dilakukan, dengan terbentuknya beberapa Badan Usaha dibawah PT KAI sendiri maupun swasta seperti halnya PT Commuter, PT MRT, PT Railink dan diharapkan dimasa yang akan datang akan terbentuknya beberapa operator KA dari sektor swasta untuk mewujudkan Kereta Api yang lebih baik dari segi ketepatan waktu sampai tujuan dan kenyamanan pengguna.
Pembenahan dan peningkatan pembangunan prasarana dan sarana KA mulai dilakukan dibawah direktorat perkeretaapian dengan dibangunnya beberapa Jalur Ganda, pembangunan stasiun, flyover untuk menghilangkan perlintasan sebidang serta pengadaan sarana Locomotif dan Gerbong Penumpang serta yang tidak kalah pentingnya adalah tempat untuk perbaikan dan perawatan (Depo). Beberapa progress kemajuan pembangunan jalur ganda yang penulis ketahui sebagai berikut :
  1. Jalur ganda lintas bandung antara Cikampek – Purwakarta, Ciganea-Sukatani, Cisomang-Plered.
  2. Jalur ganda Tanah Abang Serpong di JABODETABEK.
  3. Jalur ganda lintas utara antara Cikampek-Cirebon.
  4. Jalur ganda lintas timur antara Yogyakarta- Solo.
  5. Jalur ganda lintas selatan antara Kutoarjo-Yogyakarta.
  6. Jalur ganda lintas selatan antara Patuguran-Purwokerto
  7. Jalur ganda lintas utara, sebagian antara Cirebon-Semarang.

Demikian progress pembangunan jalur ganda yang telah dilakukan, dan diharapkan jalur lainnya yang selama ini menjadi masalah keterlambatan KA sebagai jalur Tunggal bisa ditingkatkan menjadi jalur ganda seperti Serpong-Maja, Lintas Tangerang, Cirebon-Kroya, Kroya-Kutoarjo, dll. Diharapkan juga perlu adanya koordinasi antara pembangunan jalur ka dan jalan raya TOL, jangan sampai tumpang tindih sehingga jalur ka menjadi tidak bisa menjadi primadona lagi seperti halnya jalan to Cipularang yang membuat KA Parahyangan kurang peminat.  Ada satu hal lagi jangan sampai kita seperti pepatah ’HANYA BISA MEMBANGUN TETAPI KURANG BISA MERAWAT”. Hal ini bisa terlihat di beberapa stasiun JABODETABEK seperti Stasiun Cikini, Gondangdia, Depok baru dan stasiun-stasiun lainnya, dimana fasilitas yang telah dibangun dengan dana pinjaman menjadi kurang bermanfaat mulai dari peralatan elevator dan bangunan-bangunan yang kosong tanpa penghuni dan menjadi tempat-tempat yang tidak enak dipandang mata.
Bravo Kereta Api Indoensia.

Rabu, Oktober 20, 2010

INTRODUCTION and ABOUT ME




My Name is MS Syarif and I am 43 years old. I graduated with University's degree in an electrical faculty.

My History :
Mr. M.S.Syarif has been involved in the consulting services activity of railway development in Indonesia for more than 18 years. He has worked on the project construction supervision for Railway Jabotabek Project financed under foreign loan such as JIBC loan for Train Operation Control System project, French protocol loan for Construction and Erection Works on Serpong Line Track Improvement Project etc, with main task as signal engineer or inspector.
His accumulated experience and in-depth knowledge on the railway construction supervision, especially on this project, will be utilized to the benefit of the successful execution and completion of this project. Mr M.S.Syarif involved mainly in supervision of signalling system installation, termination and testing for several railway projects.

Key experience includes :wide and long experiences as signal engineer/supervisor for design review and construction supervision of railway infrastructure development, including following major projects :
  • Basic Design for Mass Rapid Transit , under JICA LOAN IP-546
  • Project Management and Supervision for Segment III, under JBIC LOAN IP-489,
  • Consulting Supervisory Services for Depok Depot Construction (Package A), Jabotabek Railway Project, under JBIC loan IP-490
  •  Project Management, Supervision and Training for the Jakarta-Bandung Corridor Development, under World Bank (IBRD) Programme
  • Consulting Engineering and Supervisory Services for the Train Operation Control System (TOCS), Jabotabek Railway Project, under JBIC Loan IP-391,
  • Project Management and Supervisory Services for the Installation Works of a Modern Railway Signalling System, Cirebon - Kroya – Yogyakarta (CKY) of South Java Line under Australian Government Loan,
  • Consulting Supervisory Services for Construction and Erection Works of Serpong Line Single Track Improvement (STI), Jabotabek Railway Project, under French Protocol Loan
Education and Training:
-          Graduated. Electrical Engineering, Indonesian of University, October 1992
-          Aspek Hukum Kontrak Konstruksi dan Pengenalan FIDIC , INKINDO, Jakarta, November 1993
-          Training for Optical Cable Splicing and Jointing, Westinghouse Brake and Signal (AUS), Purwokerto, August 1995
-          Training Individual and Integrated Testing for WESTRACE Electronic Interlocking system, Westinghouse Brake and Signal (AUS), April 1997
-          Advanced Management Workshop, PT Pembangunan Jaya, August 2004,

Experience Record :
1.     Consulting services for Mass Rapid Transit on Lebak bulus – Bundaran HI at Jakarta, under JICA loan 546;
2.   Consulting Supervisory services for Railway Double Tracking of Cikampek-Cirebon on Java North Line (II), Segment III, under JBIC loan IP-489;
3.     Cost Estimation and Budgeting Scheme for Implementation of Railway Double Tracking between Serpong and Maja;
4.     Consulting Supervisory Services for Depok Depot Construction (Package A), under JBIC loan IP-490;
5.     Preparation of Standardization for Signalling and Telecommunication system for Railway, IMO Study, under JBIC Loan IP-469;
7.     Train Operation Control System (TOCS), Jabotabek Railway Jabotabek, under JBIC Loan IP-391
8.   Project management, consulting Supervisory services for the Installation Works of Modern Railway Signalling System, West Java dan Central Java, under Australian Loan;
9.   Construction and Erection Works on the Serpong Line Single Track Improvement (STI), Jabotabek Railway Project, under French Protocol Loan
6.     Project Management, Supervision & Training for the JakartaBandung Corridor Development, Railway Efficiency Project, under World Bank (IBRD) Programme;

Senin, Agustus 16, 2010

LEAKAGE COAXIAL CABLE SYSTEM


FUNGSI          :          
Digunakan sebagai media transmisi sinyal radio untuk :
  1. Komunikasi radio antara  KA dengan KA
  2. Komunikasi radio antara  KA dengan OCC
  3. Komunikasi radio antara Maintenance staff dengan portable wireless telephone dengan stasiun/OCC.
  4. Moving block/CBTC


LETAK            :
Pemasangan LCX  untuk lokasi, dimana sistim transmisi sinyal radio tidak kuat (radio coverage) seperti berikut :
1.      Dalam terowongan.
2.      Dalam ruangan.

PEMASANGAN
  1. Pemasangan LCX disepanjang sisi kiri dan kanan Track.
  2. Pemasangan LCK didalam ruangan stasiun bawah tanah untuk portable wireless telephone
  3. Jarak antara Kabel dengan Antena maksimum 1.5

PERSYARATAN OPERASI/ MATERIAL
  1. Kabel dilapisi dengan material jenis Low Smoke Zerro Halogen
  2. Nilai Impedance 50 atau 75 Ohms
  3. Dilengkapi dengan  kawat pendukung (support wire) yang mempunyai beban tarik yang diijinkan.
  4. Mempunyai lapisan tahan api
  5. Tahan terhadap polusi udara
  6. Tahan terhadap interference medan electrostatic dan medan elektromagnetik
  7. Nilai Coupling loss 50 db s/d 80 db

Sabtu, Agustus 14, 2010

MRT (Mass Rapid Transit ) Jakarta

Beberapa narasumber telah menyampaikan bahwa suatu saat Jakarta akan lumpuh. Apa yang lumpuh?, itu pertanyaan masyarakat awam yang kurang mengerti bahasa narasumber. Maksudnya adalah transportasi di Ibu kota Jakarta yang lambat laun akan lumpuh dikarenakan pertumbuhan kendaraan bermotor roda dua dan empat yang sangat pesat sehingga memungkinkan setiap orang untuk menggunakan moda transportasi tersebut untuk keperluan usaha, pekerjaan dll. Berbagai usaha telah dilakukan Pemerintah Daerah DKI Jakarta, mulai dengan Jalur 3-1 (bacanya: Tree in One), Busway, Monorail (Tertunda karena pendanaan), sampai dengan rencana membangun MRT ( Mass Rapid Transit) seperti di negara tetangga. Telah diinformasikan Proyek MRT akan segera dimulai, dan memang Pemprov DKI telah menepati janjinya walaupun tertunda karena di luar kebijakannya untuk mempercepat pendanaannya. Melalui pendanaan dari JAPAN BANK OF INTERNATIONAL COORPORATION (JBIC) sekarang disebut JICA, proyek tersebut akhirnya dapat dimulai di akhir tahun 2009 untuk pembuatan Basic Design ( Disain dasar )dengan jalur Lebak Bulus sampai dengan Bunderan HI sepanjang 15,5 Kilometer dengan memiliki 7(tujuh) stasiun layang dan 6(enam) stasiun bawah tanah (Subway). Masyarakat sangat antusias menyambutnya dengan syarat Harga Tiket yang kompetitif dan terjangkau serta pelayanan yang memuaskan. Masalah pelayanan yang sangat disorot seperti halnya dengan moda transportasi yang sudah ada seperti Kereta Api Komuter yang sering kali terlambat akibat terjadinya gangguan teknis, Busway yang sudah mulai disterilisasi akan tetapi dengan jumlah armada yang kurang pada akhirnya terjadinya penumpukan penumpang di tiap halte/terminal dan akhirnya keterlambatan ketempat tujuan akan terjadi. jadi kapan MRT dapat digunakan?, ternyata masih lama juga MRT di Jakarta dapat beroperasi, sesuai dengan hitungan proyek sekitar tahun 2016. Masih lama juga ya?, apakah Jakarta sudah lumpuh?. Pemprov segera mengantisipasi masalah persebut dengan mempercepat proses basic desain dan dilanjutkan proses lelang konstruksi sehingga diharapkan sebelum tahun 2016 bisa segera beroperasi. Mengutif sumber berita Harian Kompas tanggal 14 Agustus 2010 "Penyusunan rencana teknis detail yang seharusnya selesai awal Januari 2011 dipercepat menjadi akhir Oktober 2010. Proses konstruksi juga akan dimulai dua bulan lebih awal, yaitu pada November 2011".

Kamis, Mei 27, 2010

PROGRESS JALUR GANDA DI PULAU JAWA



Salah satu moda transportasi yang ada saat ini di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa adalah Kereta Api.
Mulai jaman Penjajahan sampai saat ini, transportasi kereta api sangat di butuhkan sebagai sarana transportasi jarak jauh maupun jarak pendek atau kita sebut Long distance ( antar kota ) dan Commutter ( Perkotaan ).



Dengan dibentuknya Direktorat tersendiri di Departemen Perhubungan, diharapkan infrastruktur sebagai penunjang Prasarana dan Sarana kereta api, dapat ditingkatkan dan menunjukkan perkembangan yang berarti sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Progress kemajuan mulai terlihat dengan disahkannya UU 23/2007 sebagai payung hukum untuk mewujudkan Sarana Kereta Api bisa lebih maju dan tetap mendapatkan kepercayaan masyarakat.
Dengan adanya undang undang tersebut diharapkan dengan terbentuknya  KM (Keputusan Menteri) dan PP (Peraturan Pemerintah) dalam tahun 2009/2010, roda perekonomian sebagai sektor riil dapat berkembang pesat di perkotaan maupun didaerah-daerah.

PT. KAI ( Kereta Api Indonesia ) yang selama ini berjuang dengan susah payah sebagai Operator dan Penanggung Jawab perawatan Prasarana dan Sarana untuk berlangsungnya operasi KA mulai dibenahi dengan profesionalisme yang tinggi dikalangan pegawai dan staffnya. Sosialisasi pemisahan antara Regulator dan Operator telah dilakukan, dengan terbentuknya beberapa Badan Usaha dibawah PT KAI sendiri maupun swasta seperti halnya PT Commuter, PT MRT, PT Railink dan diharapkan dimasa yang akan datang akan terbentuknya beberapa operator KA dari sektor swasta untuk mewujudkan Kereta Api yang lebih baik dari segi ketepatan waktu sampai tujuan dan kenyamanan pengguna.
Pembenahan dan peningkatan pembangunan prasarana dan sarana KA mulai dilakukan dibawah direktorat perkeretaapian dengan dibangunnya beberapa Jalur Ganda, pembangunan stasiun, flyover untuk menghilangkan perlintasan sebidang serta pengadaan sarana Locomotif dan Gerbong Penumpang serta yang tidak kalah pentingnya adalah tempat untuk perbaikan dan perawatan (Depo). Beberapa progress kemajuan pembangunan jalur ganda yang penulis ketahui sebagai berikut :
  1. Jalur ganda lintas bandung antara Cikampek – Purwakarta, Ciganea-Sukatani, Cisomang-Plered.
  2. Jalur ganda Tanah Abang Serpong di JABODETABEK.
  3. Jalur ganda lintas utara antara Cikampek-Cirebon.
  4. Jalur ganda lintas timur antara Yogyakarta- Solo.
  5. Jalur ganda lintas selatan antara Kutoarjo-Yogyakarta.
  6. Jalur ganda lintas selatan antara Patuguran-Purwokerto
  7. Jalur ganda lintas utara, sebagian antara Cirebon-Semarang.

Demikian progress pembangunan jalur ganda yang telah dilakukan, dan diharapkan jalur lainnya yang selama ini menjadi masalah keterlambatan KA sebagai jalur Tunggal bisa ditingkatkan menjadi jalur ganda seperti Serpong-Maja, Lintas Tangerang, Cirebon-Kroya, Kroya-Kutoarjo, dll. Diharapkan juga perlu adanya koordinasi antara pembangunan jalur ka dan jalan raya TOL, jangan sampai tumpang tindih sehingga jalur ka menjadi tidak bisa menjadi primadona lagi seperti halnya jalan to Cipularang yang membuat KA Parahyangan kurang peminat.  Ada satu hal lagi jangan sampai kita seperti pepatah ’HANYA BISA MEMBANGUN TETAPI KURANG BISA MERAWAT”. Hal ini bisa terlihat di beberapa stasiun JABODETABEK seperti Stasiun Cikini, Gondangdia, Depok baru dan stasiun-stasiun lainnya, dimana fasilitas yang telah dibangun dengan dana pinjaman menjadi kurang bermanfaat mulai dari peralatan elevator dan bangunan-bangunan yang kosong tanpa penghuni dan menjadi tempat-tempat yang tidak enak dipandang mata.
Bravo Kereta Api Indoensia.

Kamis, April 22, 2010

COMMUTER SURVEY

Perekonomian sebagai manajer proyek dan staf pendukung dari Kemenko Bidang Perekonomian, Bappenas, Kementrian Perhubungan, Kementrian Pekerjaan Umum, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, BPPT, dan pemerintah Kabupaten/Kota di Jabodetabek. Pihak Jepang menugaskan dua ahli yang ditugaskan secara jangka panjang diketuai oleh Mr. Keigo Hamada dan dua belas ahli yang ditugaskan secara jangka pendek dari Oriental Consultant Company Limited dan Almec Corporation.


Dalam program kerjasama teknis JUTPI dilakukan kegiatan yaitu antara lain peningkatan kemampuan teknis terkait dengan perencanaan transportasi melalui alih pengetahuan dan teknologi kepada pihak pemerintah pusat dan daerah termasuk konsultan lokal, pengumpulan data transportasi dan kelembagaan pemerintah pusat dan daerah, pembaharuan data SITRAMP termasuk pelaksanaan survey transportasi, penyusunan Rencana Induk Transportasi Jabodetabek, pembentukan Badan Pelaksana Kebijakan Transportasi Perkotaan Terpadu untuk wilayah Jabodetabek, dan pelaksanaan pilot project.

Survey transportasi untuk keperluan pembaharuan data yang akan dilakukan dalam JUTPI terdiri dari empat survey yaitu commuter survey, person tracking survey, vehicle tracking survey dan transportation equity survey. Commuter survey merupakan survey yang utama dengan melibatkan 180.000 rumah tangga dengan asumsi rata-rata terdapat empat anggota keluarga dalam setiap rumah tangga atau 3% dari jumlah penduduk Jabodetabek dan diperkirakan akan melibatkan 1.800 pelaksana survey lapangan. Dalam kegiatan survey ini diharapkan adanya kerjasama dari seluruh pihak terutama pemerintah kota/kabupaten untuk dapat memberikan ijin pelaksanaan survey beserta data-data yang dibutuhkan guna kelancaran survey. Data-data yang dihasilkan dari survey tidak hanya digunakan untuk perencanaan rencana induk transportasi tetapi juga perencanaan-perencanaan lain dalam wilayah Jabodetabek.

Minggu, Februari 14, 2010

SPECIFICATION OF SUBSTATION ( GARDU TRAKSI )

  1. SCOPE OF WORKS :
The  works comprise the supply and installation of electrical materials and equipment to the substation including installation of power cable from the PLN supply to a new PLN switch house and installation of power cable from the new PLN switch house to the incoming disconnecting switch cubicle all in accordance with the specification and drawing.

     2.  MATERIALS :
  1. Location : electrical equipment such as a distribution transformer which produces significant heat shall be installed outdoors. The operation condition of the substation (either opening or closing of the circuit breaker, or of any faults) shall be indicated on the indication device at the building. 
  • Installation : Equipment and device installed within the substation buildings shall be housed in cubicles. In priciple, main circuits between facilities shall be made by power cables. All the charged parts/conducters shall be enclosed in a cubicle, or other protection.
  • Manufacture : Where new equipment supplied by the project is connected with the existing equipment, the contractor is responsible to ensure the compatibility of function and performance between the new and existing equipment.
  • Electrical requirements : The electrical requirements for AC 20 kV and AC 6 kV shall be as follows :
  1. AC 20 kV system :  
  • Nominal Voltage                   : 20 kV
  • Rated Voltage                       : 24 kV
  • Insulation Level                     : 125 kV ( rated lightning impulse withstand voltage peak) 
                 :  50 kV ( Retaed short duration, 1 min, power frekuency withstand Voltage, r.m.s.
  • Rated frequnecy                     : 50 Hz.
  • Rated bus current                   : Not less than 600 A
  • Rated short time withstand current : Not less than 20 kA ( 1 second )
  • Max fault level                              :  Not less than 20 kA.
TO BE Continued.............................

Rabu, Februari 03, 2010

KRL - KERETA API LISTRIK

Sering kali kita membaca di Surat Kabar dan mendengar di Berita, baik radio maupun media televisi tentang keluhan sarana kereta api, khususnya di wilayah Jabodetabek. Transportasi yang sangat dibutuhkan semua kalangan untuk berangkat dan pulang dari rumah ke tempat kerja dan tempat-tempat lainnya. Di jabodetabek transportasi yang digunakan adalah kereta api jenis KRL untuk jenis Commuter ( angkutan masal dalam kota ) bukan Jarak Jauh ( Long Distance). Kalau dibandingkan dengan sarana transportasi lainnya, sarana KRL jauh lebih murah. Kita coba utak atik hitungan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan setiap orang untuk setiap bulannya.
Kendaraan Pribadi Roda Empat : Untuk menggunakan sarana ini di dalam kota Jakarta, harus siap dengan kemacetan dan keterlambatan sehingga tidak jarang jalur Busway dilalui juga untuk mengurangi keterlambatan waktu sampai tempat tujuan. Untungnya menggunakan Jalur busway masih belum dikenai TILANG, walaupun ada Rambu DILARANG DI LALUI SELAIN BUSWAY!!!!. Hitungan biaya, kalau isi bahan bakar kurang lebih dalam sehari membutuhkan biaya bahan bakar sebesar Rp. 25.000,- jadi sebulan 25 hari x Rp. 25.000,- = Rp. 625.000,-. dan ditambah cicilan kredit mobil dan parkir kurang lebih Rp. 5 juta, jadi total Rp. 5.625.000,-
Kendaraan Pribadi Roda Dua : Sarana transportasi ini lebih bisa diandalkan untuk mencapai tempat tujuan, walaupun dengan resiko kecelakaan yang lebih tinggi, mungkin mencontoh Motor GP untuk keahliannya bermanuver masuk ke kiri dan kanan Kendaraan Roda Empat Lainnya. Harapannya Jangan Hujan. Biaya yang dibutuhkan untuk bahan bakar Rp. 12.000/2 hari, jadi sebulan 25 hari x Rp. 12.000/2 = Rp. 150.000,- dan ditambah cicilan kredit motor dan parkir kurang lebih Rp. 350,000,-, jadi total Rp. 500.000,-
Kendaraan Umum Bis : Untuk mendapatkan kenyamanan selama perjalanan tidak mungkin, walaupun itu jenis AC. Penumpang yang penuh sesak didalam Bis kota mengakibatkan fungsi AC tidak berfungsi dengan baik. Tariff AC sekitar Rp. 6000,- sekali jalan, jadi sebulan 25 hari x Rp. 6000,- x 2 u PP = Rp. 300.000,- .
Kendaraan Umum Busway : Dikarenakan semua koridor belum difungsikan dan diselesaikan dari rencana 15 koridor, maka untuk integrated belum bisa terwujud, sehingga masih dibutuhkan angkutan lainnya untuk mencapai terminal2 pemberangkatan dari kota2 sekitar Jakarta. Yang perlu dibenahi adalah prasarana jalur Busway, harus steril dari kendaraan lainnya untuk mendapatkan Headway yang diharapkan. Saat ini beberapa Koridor masih belum bisa ditegaskan untuk penggunaan Jalur Busway oleh kendaraan lainnya. Waktu tempuh jadi bertambah dan akhirnya sebagian pengguna beralih ke Sarana Transportasi lainnya. Untuk biaya cukup murah dengan Tariff Rp. 3500,- x 2 u PP. Hitungan sebulan 25 x Rp. 3500,- x 2 = Rp. 175.000,-








Kendaraan Kereta Api KRL :
Dengan kondisi dan jumlah armada KRL yang ada dan jumlah penumpang, tidak seimbang mengakibatkan setiap rangkaian penuh sesak dan sampai ada yang dengan resiko naik ke Atap Gerbong, tanpa memperhatikan bahaya yang mengintai dengan Tegangan Listrik 1500 Vdc. Akibatnya KRL sering kali mengalami kerusakan. Secara Teknis :
  • berat gerbong + motor traksi adalah 28 Ton.
  • berat gerbong tanpa motor adalah 24 ton.
  • berat penumpang maksimum 20 ton. Jadi total berat KRL plus penumpang sekitar 50 ton.
  • Beban yang dapat ditanggung Roda Gandar adalah 14 ton/roda sehingga total 4 roda x 14 ton = 64 ton.
Dengan kondisi itu beban yang ditanggung roda masih mencukupi. Akan tetapi yang perlu diperhatikan diperhatikan adalah Pantograph dan Contact Wire. Sering kali terjadi bunga api atau Spark dikarenakan adanya rongga antara Contact wire dan pantograph karena stabilitas jalan yang kurang tamping dan penuhnya penumpang, akibatnya motor traksi terjadi tegangan kejut dan pada akhirnya mengalami kerusakan.
Untuk biaya sangat kompetitif yaitu : Tariff Ekonomi Rp. 3500, AC Ekonomi Rp. 6500 dan AC Rp. 11.000, sehingga total sebulan sebagai berikut :
KRL Ekonomi ; 25 hari x 2 u PP x Rp. 3500,- = Rp. 175.000,-
KRL Ekonomi AC : 25 hari x 2 u PP x Rp. 6500,- = Rp. 325.000,-
KRL AC : 25 hari x 2 u PP x Rp. 11.000,- = Rp. 550.000,-
Demikian perbandingan kasar yang coba penulis lakukan, tidak ada maksud menjelekan sarana Transportasi yang ada. Mudah2 ini sangat berguna untuk Study Transportasi Dalam Kota.




Sabtu, Januari 30, 2010

CENTRALIZED CLOCK SYSTEM

Salah satu kelengkapan prasarana yang diperlukan dalam menunjang operasi kereta api adalah Penunjuk waktu. ( Clock System ). Penunjuk waktu ini bermanfaat untuk menginformasikan kedatangan dan pemberangkatan Kereta Api dari dan ke Stasiun dan yang tidak kalah penting yang berhubungan dengan sistim persinyalan dan telekomunikasi untuk investigasi apabila terjadi Accident atau yang umum dikenal dengan istilah PERISTIWA LUAR BIASA. Penunjuk waktu ini menggunakan sistim Synchrounisasi yang artinya untuk setiap penunjukan waktu di stasiun baik di Peron maupun didalam Kantor Operasi, Ruang PPka dan Sinyal Kabin harus sama. Sistim Penunjuk Waktu yang lebih dikenal dengan Clock System terdiri dari perangkat Master dan Slave. Transmisi yang dikirim dari Master Clock ke Master Clock maupun Master Clock ke Slave Clock menggunakan transmisi Kabel. Sedangkan Master clock itu sendiri dapat terhubung dengan Penunjukkan waktu secara On-line dengan menggunakan sistim GPS ( Global Positioning System ) via Satelit atau dengan sistim Manual Setting setiap waktu.





MASTER CLOCK




SLAVE CLOCK ON TOWER



SLAVE CLOCK ON THE YARD STATION



SLAVE CLOCK IN SIGNAL CABIN

Minggu, Januari 17, 2010

SISTEM CATU DAYA KERETA API


Sumber Catu Daya untuk sistem persinyalan di Indonesia umumnya dan di Jabotabek Khususnya dibagi dalam tiga jenis :
  1. Catu Daya Utama yang bersumber dari PLN dan PDL listrik aliran atas.
  2. Catu Daya Darurat yang bersumber dari Batere
  3. Catu Daya Cadangan yang bersumber dari Diesel Generator
  • Fungsi dari Catu Daya Utama adalah Penyedia daya utama untuk kebutuhan peralatan sinyal dan telekomunikasi.
  • Fungsi dari Catu Daya Darurat adalah sebagai catu daya pengganti sementara sampai dengan catu daya cadangan beroperasi.
  • Fungsi dari Catu Daya Cadangan adalah Penyedia daya cadangan apabila catu daya utama mengalami gangguan atau failure.
Bagaimana dengan persyaratan catu daya untuk peralatan sinyal dan telekomunikasi, adalah sebagai berikut :
  1. Dapat memenuhi kebutuhan beban peralatan sinyal, telekomunikasi dan penerangan di dalam ruang PPka dan Stasiun, besaran daya tergantung jumlah peralatan yang dipasang di tiap stasiun. Khususnya untuk peralatan motor wesel.
  2. Supply harus terus menerus tanpa terputus atau tidak putus nyambung
  3. Sistim Pengisian batere harus secara otomatis.
  4. Catu Daya Utama harus mempunyai persyaratan :
  • Setiap saluran masuk harus dilengkapi dengan sistim penangkal petir, pemutus arus, trafo isolasi dan stabiliser tegangan.
  • Peralatan Stabiliser Tegangan harus dapat bekerja pada tegangan 220/380 V +/- 15%. dan Frequensi 50 Hz +/- 3 Hz.
5. Catu Daya Cadangan harus mempunyai persyaratan :
  • Harus mempunyai kemampuan paling rendah 1,25 x beban normal dari total beban instalasi sinyal dan telekomunikasi.
  • Harus dapat bekerja pada tegangan 220/380 V +/- 5% dan Frequensi 50 Hz.
  • Harus mampu bekerja selama 24 jam dengan beban 80% dari total kemampuannya.



GENERATOR


6. Catu Daya Darurat harus mempunyai persyaratan :
  • Jenis batere NiCd/Sealed Acid Maintenance Free, rechargeable.
  • Mudah didapatkan di pasaran.
  • Harus mampu bekerja selama peralihan antara catu daya utama dan cadangan dengan catu daya sementara selama 3 jam pada operasi normal dengan beban seluruh peralatan yang dicatunya.



BATERE
Persyaratan Pemasangan :
  1. Catu Daya Utama di pasang di ruang khusus catu daya utama.
  2. Catu Daya Darurat di pasang di ruang khusus di samping ruang catu daya utama.
  3. Catu Daya Cadangan di pasang di ruang khusus di samping ruang catu daya utama dengan pondasi yang dilengkapi sistim anti getar.
  4. Ruang catu daya harus dilengkapi sistim ventilasi udara. Misalnya Rotary Fan, Exhaust Fan dan Filter penahan debu yang mudah dibuka untuk dibersihkan.











TEMPAT PROMOSI (PROMOTION SPACE)

Photobucket
2. 8.